” COKOT”

Siang itu cuaca sangat cerah. Hari itu di suatu halaman telah berkumpul beberapa anak-anak kecil usia sekolah dasar. Mereka berkumpul untuk bermain bersama-sama. Mereka bermain besama-sama meskipun meraka berasal dari daerah dan adat yangberbeda.

Nampak dua orang anak, yang satu bernama Salun. Dia berasal dari daerah sunda atau Jawa Barat, dia pandai berbahasa sunda, jawa dan bahasa indinesia. Sedangkan yang satu lagi bernama Welius dari namanya sudah kelihatan kalau dia bukan anak jawa maupun sunda melainkan ptra daerah Papau dari suku Wamena. Meskipun Welius asli putra daerah Papaua tapi dia tidak bisa berbahsa atau berbicara debgan bahasa asli wamena. Dia justru bisa berbicara dengan bahasa jawa dan bahasa indonesia. Kedua anak ini berteman sangat akrab, meski mereka berbeda.

Ketika itu mereka berencana akan membuat sebuak panggung yang terbuat dari batang-batang kayu yang nantinya panggung itu bisa digunakan untuk bermain dan berteduh. Salah satu anak yang bernama salun mulai menebang batang-batang kayu. Sementara Welius sibuk mengumpulkjan kayu-kayu itu dan mencari tali dari pohon yang merambat. Tiba-tiba salun menyuruh Welius untuk mengambilkan sesuatu

Salun : “Welius, tolong ambilkan bedok eta.”( bedok dalam bahsa Sunda adalah parang, sedangkan eta artinya itu.)

Welius merasa bingung apa yang diminta oleh temannya itu karena dia tidak tau apa itu bedok.diapun bertanya

Welius : ” Lun, bedok itu apa?.”

Salun :” Itu yang dekat kaki kamu!”

Welius melangkah dan mengambil parang yang di maksud oleh Salun dan menunjukkan kepada Salun” Parang ini to!”.

Salun : iya

Salun kemudian mengambil tebu yang ada di dekatnya dan memakanya bersama Welius.

Salun :” Wel, tebunya amis ya”

Welius : ” Apanya? ( sambil mencium tebunya ) memangnya ada tebu yang amis ya? Jangan-jangan tanganmu yang amis, pasti kamu makan pake gereh( sambil tertawa karena menganggap ucapan salun aneh

Salun : “Enak aja! Aku ga makan pake ikan asin umikku masak jengkol!

Welius semakin tidak mengerti perkataan temannya. Kemudian bertanya ” Terus tebunya amis kenapa?” salun dengan jengkel berkata ” Amis itu Manis bukan bau amis!dasar welius embelen( ingusan).

Mereka tetap meneruskan pekerjaan mereka. Ketika mulai menggali-gali tanah terlihat Salun bingung mencari sesuatu dan akhirnya menyuruh Welius

Salun : “Wel, cokotken itu” sambil menunjukkan telunjuk jarinya

Dengan perasaan takut bdan bingung Welius melangklah mendekati Salun dan kemudian dia menggigit jarinya Salun. Karena kesakitan salun berteriak dan berkata

Goblok! Ya maneh, kenapa jari ku kamu gigit. Cepat cokotkan linggis itu dan bawa kesini. Welius bertambah bingung dengan terpakasa dia pergi untuk nmengambil linggis dalam hatinya orang kok aneh linggis kok disuruh gigit emangnya roti!”. Kemudian dia menggigit linggis itu dan hendak dibawa ke temanya namun dia tidak biasa dan berkata” Lun aku ga biasa, kumu itu aneh! Masak linggis suruh ngigit, gigiku kan sakit”. Salun yang mendengar ucapanya dan melihat apa yang dilakukan temanya tertawa terbaha-bahak sambil berkata ” kamu itu salah, maksudku cokot itu diambil bukan digigit”. Mendengar keterangan dari salun Welius hanya cengar-cengir malu sendiri.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: